3 Cara Menghitung Hari Pernikahan Yang Baik 2024

Banyak orang, terutama orang Jawa, percaya bahwa pemilihan hari pernikahan harus dilakukan dengan penuh perhitungan agar tidak tertimpa sial. Perhitungan ini dilakukan berdasarkan hari lahir kedua calon pengantin. Bagaimana cara menghitung hari pernikahan menurut hitungan Jawa?

Selama ini, kamu mungkin berpikir bahwa hanya ‘orang pintar’ saja yang bisa menghitung hari baik pernikahan dalam adat Jawa. Padahal, kamu bisa menghitungnya sendiri asalkan tahu caranya. Cara tersebut bisa kamu pelajari di sini.

Hitungan Weton

Sebelum kamu belajar cara menghitung hari baik pernikahan, kamu harus memahami hitungan weton hari lahir kedua pengantin. Hitungan ini merupakan dasar perhitungan hari baik pernikahan. Bahkan, hitungan weton dalam adat Jawa juga dipakai dalam upacara adat lainnya.

Apakah hitungan weton itu? Hitungan weton adalah jumlah dari nilai atau neptu hari lahir (misalnya, Senin, Selasa, dll) dan nilai pasaran Jawa (misalnya, Kliwon, Legi, dll).

1. Neptu Hari Lahir

Kalender Jawa memiliki 7 hari dengan nama yang mirip dengan nama hari pada kalender Masehi. Setiap hari tersebut memiliki nilai atau neptu yang berbeda-beda. Berikut ini daftar neptu hari dalam kalender Jawa.

  • Sabtu: 9
  • Kamis: 8
  • Rabu: 7
  • Jumat: 6
  • Minggu: 5
  • Senin: 4
  • Selasa: 3

2. Neptu Hari Pasaran Jawa

Selain mengenal hari-hari biasa, kalender Jawa juga mengenal hari pasaran. Di pedesaan, hari pasaran ini menandai hari dibukanya pasar tradisional. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika kamu mendapati orang Jawa membahas tentang pasar Legi, pasar Wage, dsb.

Terdapat 5 hari pasaran dalam kalender Jawa. Hari pasaran ini dimulai dari Pahing dan diakhiri dengan legi. Tiap hari tersebut memiliki neptu di bawah ini.

  • Pahing: neptu 9
  • Kliwon: neptu 8
  • Pon: neptu 7
  • Legi: neptu 5
  • Wage: neptu 4

3. Contoh Perhitungan Weton

Setelah mengetahui nilai hari lahir dan pasaran Jawa di atas, kamu dapat menghitung weton hari lahir masing-masing calon pengantin. Berikut ini contoh perhitungan weton tersebut.

  • Hari lahir Sabtu Pahing memiliki neptu Sabtu (9) + Pahing (9) = 18
  • Hari lahir Jumat Kliwon memiliki neptu Jumat (6) + Kliwon (8) = 14
  • Hari Lahir Senin Legi memiliki neptu Senin (4) + Legi (5) = 9
Baca Juga:  2 Cara Menghitung Persentase Keuntungan dan Kerugian Bisnis

Cara Menghitung Hari Pernikahan Adat Jawa

Cara menentukan hari pernikahan menurut hitungan Jawa adalah dengan rumus di bawah ini.

(jumlah weton pasangan + hari baik) : 5 = sisa 3

Jadi, jika jumlah weton pasangan ditambah hari baik dan dibagi 5 harus menyisakan angka 3. Dalam adat jawa, angka 3 tersebut melambangkan kebaikan. Berikut ini contoh cara menghitung hari pernikahan menggunakan rumus di atas.

  • Contoh 1

Calon pengantin pria memiliki hari lahir Rabu Kliwon dengan jumlah weton 15. Sedangkan calon pengantin wanita memiliki hari lahir Selasa Legi dengan jumlah weton 8. Dengan demikian, jumlah weton keduanya adalah 23.

Sehingga, jika ingin memperoleh hasil sisa 3, kamu harus mencari hari yang jumlah neptunya adalah 10 atau 15. Jadi, perhitungan hari baiknya adalah sebagai berikut.

(Jumlah weton pasangan + hari baik) : 5 = sisa 3

(23 + 10) : 5 = 6 sisa 3

(23 + 15) : 5 = 7 sisa 3

Hari baik dengan jumlah neptu 10 adalah Minggu Legi atau Jumat Wage dan jumlah neptu 15 adalah Rabu Kliwon atau Kamis Pon. Itulah hari yang bisa dipilih pasangan ini untuk menikah.

  • Contoh 2

Calon pengantin pria lahir pada hari Sabtu Pahing sehingga jumlah wetonnya 18. Calon pengantin wanita lahir pada hari Kamis Wage dengan jumlah weton 12. Maka, jumlah weton kedua pengantin adalah 30. Cara menghitung hari pernikahan mereka adalah:

(30 + 8) : 5 = 7 sisa 3

(30 + 13) : 5 = 8 sisa 3

(30 + 18) : 5 = 9 sisa 3

Jadi, hari yang baik untuk menikah bagi kedua pasangan ini adalah Selasa Legi (8), Minggu Kliwon(13), Kamis Legi (13), dan Sabtu Pahing (18).

Bulan Baik untuk Menikah Menurut Adat Jawa

Selain menghitung hari yang baik untuk menikah menggunakan weton, orang Jawa biasanya juga memilih bulan baik untuk menikah. Mereka percaya bahwa menikah pada bulan-bulan tertentu akan berdampak positif bagi pernikahan, misalnya banyak rezeki atau pernikahan langgeng.

Baca Juga:  3 Cara Menghitung Nilai TOEFL IBT, CBT dan PBT 2024

Sebaliknya, ada pula bulan yang membawa keburukan pada pernikahan. Alhasil, mereka yang menikah pada bulan tersebut akan mengalami hal kurang menyenangkan dalam bahtera rumah tangga mereka, contohnya salah satu pasangan meninggal atau bercerai.

Berikut ini bulan dalam kalender jawa beserta maknanya bagi pernikahan.

  1. Sura (Muharam): Mereka yang menikah pada bulan ini akan sering bertengkar dan menemui kerusakan. Sehingga, orang Jawa jarang menikah pada bulan tersebut.
  2. Sapar (Safar): Konon katanya, menikah pada bulan Sapar akan membawa banyak hutang dan kekurangan. Meski kurang baik, beberapa pasangan tetap menikah pada bulan ini.
  3. Mulud (Rabiul Awal): Pernikahan pada bulan Maulud dipercaya akan membuat salah satu pasangan pengantin meninggal. Sehingga, beberapa orang tua tidak menganjurkan anaknya menikah pada bulan ini.
  4. Bakda Mulud (Rabiul Akhir): Mereka yang menikah pada bulan ini akan diterpa omongan jelek. Meski demikian, calon pengantin diperbolehkan menikah pada bulan Bakda Mulud.
  5. Jumadilawal (Jumadil Awal): Para pasangan pengantin diperbolehkan menikah pada bulan ini. Namun, konon mereka yang menikah pada bulan Jumadilawal akan memiliki banyak musuh dan mengalami kehilangan.
  6. Jumadil Akhir (Jumadil Akhir): Jumadil Akhir adalah salah satu bulan yang dianjurkan untuk melangsungkan pernikahan. Bulan ini dipercaya akan membuat pengantin kaya akan emas dan perak.
  7. Rejeb (Rajab): Konon, bulan Rejeb adalah bulan yang penuh berkah dan sangat baik untuk menikah. Pengantin yang menikah pada bulan ini akan memperoleh banyak teman dan selamat.
  8. Ruwah (Sya’ban): Ruwah adalah salah satu bulan yang dianjurkan untuk melaksanakan pernikahan. Mereka yang menikah di bulan ini akan selamat.
  9. Pasa (Ramadhan): Umumnya, orang Jawa jarang menikah pada bulan ini. Mereka percaya bahwa menikah pada bulan puasa akan membawa banyak bencana.
  10. Syawal: Meski dibolehkan untuk menikah di bulan Syawal, tapi konon pengantin akan memperoleh sedikit rezeki dan banyak hutang jika menikah di bulan ini.
  11. Dulkaidah (Dzulkaidah): Mereka yang menikan di bulan Dulkaidah dipercaya akan sakit-sakitan, sering bertengkar, dan kekurangan rezeki. Oleh karena itu, jarang ada pengantin Jawa yang menikah pada bulan ini.
  12. Besar (Dzulhijah): Jika kamu tinggal di Jawa Tengah dan Jogja, jangan heran jika pada bulan ini kamu memperoleh banyak undangan pernikahan. Orang Jawa percaya bahwa menikah pada bulan Besar akan memberi keselamatan dan kebahagiaan.
Baca Juga:  3 Cara Menghitung Skala pada Peta dan Contoh Soal

Jadi, bulan yang paling dianjurkan untuk menikah adalah bulan Besar, Ruwah, Rajab, dan Jumadil Akhir. Sedangkan bulan yang tidak diperbolehkan untuk melangsungkan pernikahan adalah Sura, Dulkaidah, Mulud, dan Pasa.

Cara menghitung hari pernikahan menurut adat Jawa tak bisa lepas dari perhitungan weton hari lahir kedua mempelai. Hasil perhitungan yang menyisakan angka 3 berarti baik, dan lainnya kurang baik. Selain menentukan hari, orang Jawa juga hanya mau menikah pada bulan-bulan baik.

Baca Juga: